Site Overlay

MELIHAT PRAKTEK BUKU FOTO INDONESIA

 

MELIHAT PRAKTEK BUKU FOTO INDONESIA

Belum diketahui secara pasti praktek buku fotografi di Indonesia kapan dimulai. Karena belum ada data maupun arsip yang valid yang menunjukan itu. Belum adanya riset dan kajian buku foto yang konperhensip yang menyebabkan masih gelapnya awal pembabakannya. Kalau boleh disebut buku foto “The American” karya Robert Franks yang terbit pertama kali nya tahun 1958 sebagai tonggak perkembangan buku foto dunia ataupun perkembangan buku foto yang ada di Jepang dikisaran tahuan 1960 an , perkembangan buku foto Indonesia bisa dikatakan sangat terlambat. Keterlambatan ini bisa jadi suatu keuntungan untuk mengarsipkan dan mendata buku-buku foto yang pernah terbit di Indonesia. Mumpung jumlahnya masih sedikit, dikisaran 500an buku (data dari perpustakaan AFN).

Mungkin baru di medium 1990 buku foto mulai dikenal di sini. Fenomena buku foto Indonesia ditahun-tahun itu bisa dilihat dari buku foto yang diterbitkan oleh pemerintah orde baru (Presiden Soeharto). Buku foto yang memperlihatkan keberhasilan pembangunan, keindahan alam dan budaya Indonesia nampak tercermin di buku foto pada saat itu (indonesia a voyage through the archipelago) . Bisa dikatakan buku foto saat itu digunakan sebagai media propaganda pemerintah. Pola ini banyak dilakukan pula pada era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Disaat itu banyak buku-buku foto yang diterbitkan atas inisiasi pemerintah. Ketika ditarik jauh kebelakang lagi, sayangnya kita belum mendapatkan data maupun arsip yang memperlihatkan praktek buku foto dijaman orde lama (Presiden Soekarno), bisa ada atau pun memang belum dimulai. Satu pekerjaan rumah bersama untuk mengungkap tabir gelap era awal praktik buku foto di Indonesia. Dijaman Presiden Jokowi kemenangan dalam pemilihan presiden periode 1 dan 2 juga ditandai dengan munculnya buku foto yang berkisah tentang proses yang mengantarkan Jokowi melanggeng ke Istana.

Diawal perkembangan buku foto pada tahun 1990 an didominasi oleh kalangan jurnalis atau pewarta foto. Satu buku yang bisa dikatakan sebagai tonggak dikenalnya buku foto adalah buku foto “Yang Kuat Yang Kalah” karya Rama Surya dengan publiser Majalah Fotomedia, Sarana Informatika & Elex Media Komputindo, 1996. Di tahun 2000 buku foto dari kalangan pewarta foto masih mendominasi  penerbitan buku foto saat itu. Gramedia Grup sebagai publisher punya peran yang cukup penting dalam penerbitan dan pendistribusian dengan kekuatan retail took bukunya. Salah satu buku terbitan diawal 2000an yaitu buku East Timor karya Eddy Hasby terbitan Aliansi Jurnalis Independen (2001). Buku ini termasuk yang telat booming, baru-baru ini saja dikenal luas dan banyak dicari. Ini mengindikasikan pada waktu itu bisa dikatakan apresiasi terhadap buku foto masih sangat rendah.

Galeri Jurnalistik Antra (GFJA) dengan Oscar Matuloh sebagai kurator  juga sangat berpengaruh dan produktif mengeluarkan buku-buku foto. Menariknya buku-buku foto yang dikeluarkan GFJA kebanyakan hasil kerja kolektif dari beberapa fotografer. Produktifnya GFJA menerbitkan buku foto salah satunya karena hampir semua pameran yang diselenggarakan disertai terbitan buku foto, ditunjang pula kemampuan mendapatkan pendanaan disetiap projeknya.  Pola hampir serupa dilakukan oleh Panna Foto, yang juga meraimakan penerbitan buku foto antara lain : tanah yang hilang karya mamuk ismuntoro (2014), Saujana Sompu karya yoppie pieter (2015) . Kemudian di Bandung ada Air Foto Network yang banyak pula menerbitkan buku foto dengan pola hampir sama. 

Ada pola yang bisa kita lihat, kenapa buku foto banyak diendors institusi pemerintah maupun swasta pada masa itu.  Mahalnya ongkos produksi yang menyebabkan hampir tidak ada buku foto yang diterbikan sendiri oleh fotografer. Teknologi dan jalur yang tersedia hanya memungkinkan buku foto dicetak secara offsite. Satu lagi kehadiran program terkait buku foto dari lembaga kebudayaan asing ( Goethe Insitut dan Japan Foundation) yang turut memberi andil praktek penerbitan buku foto yang melibatkan kolaborator dari lembaga kebudayaan tersebut. Kedekatan dan kemampuan ‘mendekat ‘ ini yang memungkinkan bisa menerbitkan buku foto pada masa itu. 

Fotografer non Jurnalistik yang produktif mengeluarkan buku foto, bisa kita sebut salah satunya Darwis Triadi, fotografer profesional yang banyak membuat buku foto fashion, model dan portraid. Adapula Daniek. G Soekarya dengan buku foto landscape dan Rizal Marlon dengan buku foto wild life. 

Era-era masuknya digital printing sangat mempengaruhi pergeseran perkembangan buku foto indonesia. Disaat ini akses untuk produksi buku semakin mudah. Persoalan produksi yang dulunya harus offsite mulai menemukan alternatif baru. Disini munculah pembuat buku-buku self publishing dan indie publishing. Era emas buku fotografi pun dimulai. Diawali dengan terbitan self publishing aji susanto anom dan kolektif srawung foto solo. Yang bisa dikatakan mempengaruhi semangat dan style pembuat buku foto. Walaupun awalnya terjadi ‘keseragaman’, tapi ini bisa mematik gelora di scena perbukuan foto. Mulainya terbentuknya ekosistem buku foto turut mematik era kejayaan buku foto Indonesia. Dengan adanya Gueari Galeri yang muncul dengan kelas buku foto dan toko bukunya, Unobtanium dengan jalur pendistribusian buku foto yang memudahkan kita untuk mendapatkan buku foto, perpustakaan fotografi keliling dengan movementnya melakukan edukasi dan pengenalan buku foto keseluruh penjuru negeri, tumbuhnya komunitas-komunitas buku foto di beberapa kota dengan aktivitinya, dan mulai dimasukan buku foto dalam program festival foto. Alangkah lengkapnya bila perguruan tinggi fotografi juga turut andil dalam memasukan studi buku foto dalam kurikulum. Niscaya perkembangan buku foto akan berlari kencang dan praktek buku foto akan semakin semarak.

.

.

Teks : Wahyu Dhian

Catatan singkat tentang praktek buku foto di Indonesia. Masih banyak yang harus dicatatkan bersama. Ini hanya tulisan pemancing untuk melengkapi kepingan praktek buku foto di Indonesia.

(Visited 81 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *