Site Overlay

ULASAN BUKU FOTO “MOKSA”-Fresiliave

Februari 2o21 aku coba untuk mengulas MOKSA karya Fresiliave, buku kecil kuning imut, hardcover yang kukenal sejak tahun 2o17. Tapi terlalu banyak cerita tentang buku ini dan penulisnya yang membuatku agak ter-‘distract’, hehe, sehingga perlu kuhentikan dahulu sejenak memikirkan MOKSA ini. Baiklah sudah Juni ini… mari diselesaikan.

Judul Moksa dengan tulisan yang seperti guratan tinta/ dengan gambar seperti mata sebagai pengganti huruf O. Kemudian warna kuning cerah dengan ukuran buku yang sangat imut, sepertinya menggambarkan penulisnya. “Don’t look the book only by the cover.” Katanya begitu ya, tampilan buku yang “juxta”. Ternyata gambaran sesungguhnya apa yang sedang dialami saat itu terdapat di dalam.

Moksa dalam konsep Hindu/Budha berarti kelepasan atau kebebasan dari ikatan duniawi dan lepas juga dari putaran reinkarnasi. Ketika buku dibuka, terdapat barcode di sebelah kanan lembaran awal yang jika discan akan tersambung dengan musik dari youtube berjudul ‘re plus-moonscape’ berdurasi 2 menit 46 detik. Baru kali ini aku benar-benar diiringi musik dari barcode tersebut dan sangat blend, bahkan hampir tepat waktu untuk membuka lembaran demi lembaran hingga akhir. Nice! Lalu, kembali kubuka dari awal buku ini untuk kesekian kali.

Kali ini, tidak akan kubahas lembar demi lembar seperti ulasan-ulasan buku foto sebelumnya. Sekitar 2O foto, dimana jumlah yang tidak banyak untuk sebuah buku foto, di-sequenching melompat-lompat, seperti konsep sebelum Moksa, dimana reinkarnasi berubah dan berpindah tempat dari satu tubuh ke yang lainnya. Bahkan terdapat pula sangat banyak halaman kosong di antara foto-foto tersebut yang mungkin menggambarkan kegamangan dari penulis.

Penulis dari yang kudengar langsung, sempat mengalami masa-masa yang tidak nyaman karena kesepian. Foto-foto kontemplatif yang membuat berpikir lebih, bahkan mungkin tidak mudah dipahami secara umum telah menjadi medium ekspresi bagi penulisnya.  Tulisan tangan di beberapa bagian halaman sebagai narasi-narasi singkat yang menjadi pelengkap secara personal.

Terdapat juga banyak sekali ‘self portrait’ dalam buku ini secara refleksi dan bayangan gelap.  Self portrait atau potret diri adalah representasi diri secara objektif yang ditetapkan oleh ruang dan waktu. Potret diri yang diambil dan ditampilkan berhubungan dengan keputusan dan kesadaran diri, serta hubungan dengan sekitarnya.

Apresiasi dari buku kecil ini adalah bagaimana buku foto bisa berhasil bagi penulisnya sendiri, karena itulah yang paling utama. Betapa buku kecil yang laris manis mencapai 1OO eksemplar ini, bisa menjadi jembatan penulisnya untuk betul-betul “Moksa”. Buku foto ini adalah salat satu contoh medium fototerapeutik. Fototerapeutik bisa membantu diri menjadi lebih bisa menerima diri sendiri dan pada saat yang sama menjadi lebih nyaman dengan konteks social, keluarga, budaya, serta interkoneksi dengan orang lain.

Sudah 3tahunan berlalu dengan Moksa, akankah ada buku selanjutnya @unclearviews?

Pengulas

Grace Anata Irlanari, fotografer berdomisili di Bandung, pembuat dan aktivis buku foto @perpustakaanfotografikeliling @rawspublishing , pengkaji phototherapeutik. www.graceanata.com



(Visited 116 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *