Site Overlay

ULASAN BUKU FOTO “AU LOIM FAIN” – Romi Perbawa

Ulasan Buku Foto AU LOIM FAIN karya Romi Perbawa

Buku bersampul keras (hard cover) dengan warna kelabu gelap mengarah ke hitam dengan bahan  bukan kilap menjadi identitas buku foto terbaru Romi Perbawa.  Judul dan nama pembuatnya pun berwarna sama, beruntung, huruf-hurufnya dibuat emboss (timbul) sehingga dapat terbaca dengan baik.  Terdapat cover jacket dari kertas tipis, gambarnya dipilih dari salah satu cropping-an materi foto yang ada dalam buku.  Pilihan warna anatomi luar buku yang bernuansa gelap ini tampak selaras dengan materi esai foto yang juga disajikannya dalam 78 bingkai foto hitam-putih dengan kisah-kisahnya yang sebagian besar kelam.  Menjadi pekerja migran tak banyak pilihan, terbatas hanya hitam dan putih.  Ini persis seperti realitas yang ada sekarang.  Menjadi pekerja migran masih merupakan keterpaksaan dan belum merupakan pilihan bebas, dicuplik dari artikel Wahyu Susilo (Direktur Eksekutif Migrant CARE) yang ada pada buku ini.

Produk ini adalah pengembangan dari workshop buku foto Teun van der Heijden dan Sandra van der Doelen di JIPFest 2019 dan diskusi dengan Ahmad ‘DeNy’ Salman. Berbeda dengan Riders of Destiny-monogram pertama Romi yang menggunakan Bahasa Inggris untuk judulnya.  Kali kedua ini ia memilih menggunakan Bahasa Dawan (terima kasih untuk Alfred W. Djami atas informasinya).  Menurut laman petabahasa.kemdikbud.go.id Bahasa Dawan (Timor) yang masih digunakan sebagai bahasa ibu dan dituturkan di Kabupaten Kupang, Kabupaten Ambenu, Kabupaten Timor Tengah Utara, dan Kabupaten Timor Tengah Selatan di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).  Au Loim Fain artinya Aku Ingin Pulang.  Kalimat ini juga merupakan ucapan terakhir Adelina Sau jelang kematiannya.  Gadis belia 17 tahun asal Abi, Oenino, Kabupaten Timor Tengah Selatan, NTT.  Adelina adalah korban pemalsuan dokumen dan perdagangan manusia yang meninggal akibat kekerasan dan pelecehan yang dilakukan majikannya di Malysia. 

Kisah dibuka dengan suguhan visual jalan setapak kosong membelah hutan belukar, ‘lantai’ tertutup serasah, daun kering dan rumput, pertanda bukan jalan yang sering dilalui.  Lanskap bernuansa temaram, kontras rendah, tanpa ada berkas-berkas cahaya matahari yang menembus, entah karena rapatnya kanopi atau langit di luar sana yang sedang mendung.  Imaji pembuka kisah ini menempati double spread atau dua halaman penuh.  

Pada halaman berikutnya masih dijumpai imaji dengan nuansa serupa, namun berbeda jenis pohonnya, terasa sedikit mengulang foto pertama.  Rumpun-rumpun bambu lebat ‘terbelah’ oleh jalur jalan setapak.  Tiga orang ada di jalan itu dan difoto dari belakang.  Fotografer mengomposisikan mereka pada di tengah bingkai dan menjadikannya point of interest.  Mereka berjalan menuju bagian ‘ruang” yang lebih terang dan cerah cahayanya, entah karena kerapatan kanopi berkurang atau mungkin karena hutan hampir menemui ujungnya.  Tidak ada suasana mencekam di sini.  Cahaya memang bisa dipersepsikan sebagai harapan.  Caption yang terdapat pada indeks di bagian akhir buku menyebutkan bahwa kedua foto itu berkisah tentang jalur tikus bagi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) tanpa dokumen untuk menuju Malaysia.  Bagi banyak orang, menjadi TKI, bagaimanapun caranya adalah upaya meraih asa dan mengubah nasib.  Idiom yang digunakan sang fotografer ini membuat saya teringat pada imaji The Walk to Paradise Garden salah satu karya ikonik W. Eugene Smith, masternya fotografi dokumenter.     

Selanjutnya cerita bergulir ke para buruh migran Indonesia yang tengah bekerja dan berkegiatan di Hongkong dan Malaysia.  Ruang lingkup mereka beragam, ada yang menjadi asisten rumah tangga, pekerja kebun sawit, pekerja pabrik kayu.  Fotografer kelahiran Kutoarjo, jawa Tengah ini juga memotret kegiatan pelatihan calon TKI, ritual keberangkatan para pekerja migran di pelabuhan atau via jalan darat, barak pekerja di negeri tetangga, hingga pendeportasian pekerja bermasalah.

Ada gambar tentang para pekerja menikmati suasana libur di lapangan Victoria Park Hongkong, namun di sisi lain sang fotografer juga menghadirkan pemandangan sebuah gubuk yang disamarkan memakai dedaunan, didalamnya dihuni Roslina Linda dan dua anaknya yang sedang menghindari kejaran petugas imigrasi.  Terdapat juga serial potret para pekerja di bawah umur yang bermasalah dan difoto dalam rumah tahanan,  Romi menyamarkan identitas mereka dengan menghadirkan visual ala tampilan negatif film atau yang kita kenal sebagai klise (halaman 93-100).

Penulis merasakan bahwa visual dan konten yang kuat dalam buku Au Loim Fain ini ada pada sejumlah kisah kehidupan keluarga yang ditinggal di kampung halamannya di Indonesia.  Salah satunya adalah foto tentang kehidupan Arnoldus Karno Rico, dari Desa Iniere, Aimere, NTT.  Ia berusia 13 tahun (saat difoto), masa-masa bebas bermain sebagai anak-anak hilang karena terpaksa bekerja sebagai nelayan. Kedua orang tuanya pergi meninggalkan dirinya dan adiknya untuk menjadi pekerja migran, saat itu ia berusia 6 tahun.  Romi menyajikan 3 bingkai imaji Karno kecil yang sedang bekerja di atas perahu dalam bentuk sekuen dan satu foto potret.  Pada keterangan foto, Romi menyebut bahwa Karno adalah sang memantik api dalam dirinya untuk melakukan semua ini; riset, perjalanan dan memotret kisah para pekerja migran beserta segala permasalahannya yang pelik.

Sikap seorang anak saat ditinggal orang tuanya untuk menjadi pekerja migran tidaklah sama dan bisa jadi saling bertolak-belakang. Ada yang marah dan berniat mengusir sang ibu bila pulang seperti yang dilakukan Rizkiyah (halaman 124-129).  Sebaliknya ada juga yang bersyukur dan berterimakasih, seperti halnya Dokter Septilia yang pernah ditinggal sang ibu ke Taiwan di saat ia kelas 1 sekolah dasar.  Anak-anak yang ditinggal tanpa orang tua juga rentan terhadap tindak kekerasan dan kejahatan seksual, yang memilukan sang pelaku adalah orang dekat korban.  salah satu kasus yang diangkat dalam buku ini adalah pemerkosaan yang menimpa Pa, 14 tahun asal Nusa Tenggara Barat, sang pelaku adalah ayah kandungnya, sungguh keji!

Foto-foto dalam buku ini memang tak selalu ‘bagus’ jika dinilai secara teknik fotografi, namun memang bukan dengan cara itu foto dokumenter dibaca.  Setiap imaji membawa pesan dan mampu menggugah emosi dan empati kita .  Tidak mudah untuk dapat mengakses obyek-obyek dalam kisah ini, ada yang mengandung unsur bahaya dan beberapa sangat birokratik untuk dijangkau.  Perasaan kasih yang meluap-luap terhadap para pekerja migran dan keluarganya mampu meneguhkan hatinya sehingga ‘pekerjaan rumah’ yang berat dan komplek serta menguras emosi, tenaga dan materi dari tahun 2012 hingga 2019 ini bisa berhasil tuntas.  Salut dan selamat untuk Romi atas laporannya yang komprehensif.  Tema buruh migran masih menyediakan ruang untuk dipotret dengan sudut pandang lain, secara permasalahan di sektor ini begitu banyak.  Sebagai penutup ulasan ini, saya mengutip kalimat Dr. Tyas Retno Wulan M.Si dari artikelnya berjudul: Anak Pekerja Migran Indonesia Tanggung Jawab Siapa? yang terdapat dalam buku ini, sebagai berikut: “Buku ini tak boleh hanya berhenti sebagai teman minum kopi dan dipajang saja di atas meja.”

Penulis

Toto Santiko Budi: Fotografer independen dan penikmat buku foto

AU LOIM FAIN

Foto: Romi Perbawa

Teks: Romi Perbawa, Dr. Tyas Retno Wulan M. Si dan Wahyu Susilo

Penerjemah: Yoga Prasetyo

Penyunting Aksara: Rini Nurul Badariah

Desain: Tasya Bintang

Digital Imaging: Agah Permadi

Percetakan: Harapan Prima Printing

Penerbit: Yayasan Panna, 2021


(Visited 229 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *