Site Overlay

ULASAN BUKU FOTO “Meriwayatkan Jarak dan Rembulan yang Terserak” – Aji Susanto Anom

Januari 2021, saya berkesempatan melihat karya visual terbaru milik Aji Susanto Anom yang berjudul Meriwayatkan Jarak dan Rembulan yang Terserak, sebuah proyek personal mengenai ‘jarak’ yang begitu asing dalam kehidupan Aji dan istrinya selama beberapa bulan terakhir. proyek ini Aji presentasikan dalam medium bukufoto setebal 56 halaman dengan dimensi 26 cm x 18cm.

Seperti beberapa karya sebelumnya, nuansa ‘gelap’ masih mendominasi keseluruhan karyanya, Yang membedakan hanyalah refleksi yang dibawanya. Dalam bukufoto ini Aji menggunakan Rembulan sebagai metafor utama untuk merepresentasikan keberjarakan, serta lanskap ruang sebagai proses adaptif menghadapi kehampaan dan kekosongan.

Sebelum saya membaca narasinya, Kesan pertama saya setelah melihat bukufoto ini adalah seseorang yang ditinggal kekasihnya. Alasan saya berkata seperti ini karena rangkaian foto dengan objek yang jauh, dua foto dalam satu spread yang cenderung kontras, negative space yang luas, serta subjek perempuan yang membelakangi kamera memperkuat kecenderungan ditinggalkan. Ditambah dengan tanda love terbalik menambah spekulasi saya tersebut. Setelah saya membaca narasinya spekulasi ini ternyata Sebagian benar dan Sebagian keliru. Foto akan selalu ambigu, maka dari itu narasi memang diperlukan untuk menjebatani maksud dari suatu karya visual (Benar sekali jika mengatakan bahwa Penafsiran akan suatu karya visual tergantung dari preferensi setiap pembaca, namun Ini memang akan selalu diperdebatkan, apakah narasi teks itu diperlukan untuk membantu menjelaskan suatu karya visual? Bukankah dengan rangkaian foto yang Panjang seharusnya sudah cukup untuk memantik imaji pembaca untuk mengarah pada tema dimaksud? Apakah ini adalah indikasi ketidakberhasilan visual yang dipilih fotografer sebagai pengkarya?).

Sepenglihatan saya, Bukufoto ini berjalan linier dengan tiga fase yang menjadi alur cerita. Difase pertama Aji berupaya membangun narasi visual kepada pemirsa agar mempercayai adanya ‘jarak’ antara ia dan istrinya, bagaimana perpisahan itu membuat keterasingan satusamalain; Aji dengan dunianya dan istrinya dengan dunianya sendiri. tapi disaat bersamaan, perpisahan itu membuat Aji merasakan kerinduan yang amat sangat melalui representasi bulan yang ia bawa; terlihat namun tak bisa disentuh.

Kerinduan itu yang membuat dirinya dalam posisi kehampaan dan kekosongan, hal inilah yang menjadi fase kedua. Dalam fase ini, Aji menitikberatkan pada proses adaptasi terhadap kehampaan tersebut. ia tidak sedang melawannya, tapi cenderung merayakannya; Dimana semua hal Bahagia seakan pergi dari dirinya, yang tersisa adalah meratapi kesengsaraan tersebut.

Pada fase ketiga, saya rasa ini menjadi klimaks perasaan itu. Setelah dalam beberapa fase sebelumnya ia harus memulai semua dengan kehampaan dan penderitaan, difase terakhir ini ia Kembali pada posisi semulanya dan dapat mengobati kerinduan tersebut.  

BULAN; SIMBOLISME DAN PENGGUNAANYA

Seperti kita ketahui, Aji menggunakan Rembulan sebagai metafor utamanya. Representasi tentang Bulan ini berulang kali muncul di beberapa halaman, yang entah secara sadar atau tidak sebenarnya adalah utas metafisik untuk pembaca agar tetap dialur yang Aji inginkan.

Metafor ini saya anggap sebagai simbol karena keseluruhan aspek karyanya menggunakan Bulan sebagai pondasi berkelanjutan. Dalam tradisi Tarot Rider Waite Smith (RWS Tarot) Bulan / The Moon merupakan simbol dari sisi misterius kehidupan, sisi feminim, perempuan, perubahan, dan sensitifitas. Simbolisme ini merupakan apa yang disebut Carl Gustav Jung sebagai Arketipe, yakni perulangan pengalaman universal yang terkandung dalam ketidaksadaran kolektif. Sedangkan Paul Tillich membuat perbedaan penting antara simbol dan tanda. Tillich menyebut bahwa Simbol adalah obyek yang bisa diketahui dengan melampaui diri sendiri menunjuk pada realitas tersembunyi, sedangkan tanda adalah obyek yang bisa diketahui yang dengan melampaui diri hanya menunjuk kepada suatu obyek yang bisa diketahui lainnya[1]. Meski paul Tillich menjelaskan ini dalam konteks hakikat iman, kita juga dapat mengaplikasikannya dalam ranah visual karena kesamaannya yang misterius. keimanan tidak hadir dalam sesuatu yang bersifat lahir,ia disebulungi selimut tebal sehingga diperlukan perantara yang dapat dimaksudkan untuk menekuni keimanan tersebut (dalam konteks religius misalnya peribadatan, sholat, dll), ketekunan inilah yang dimaksud simbol. Sederhananya, simbol merupakan keselurahan aspek yang menyelimuti suatu karya, sedangkan tanda adalah ekspresi Bahasa yang membantu menjelaskannya. Dalam konteks karya Aji, keimanan ini diekspresikan dalam simbol Bulan yang merupakan perantara antara ia dan istrinya. sedangkan tanda (atau penanda jika menurut Ferdinand de Saussure) Aji perlihatkan dalam beberapa foto perempuan membelakangi kamera dan burung terbang yang menafsirkan ditinggalkan, foto kupu-kupu dan kodok mati  yang menafsirkan ketragisan – keterasingan,  foto love terbalik yang menafsirkan kesendirian, dan lain-lain. Hal ini penting untuk diketahui agar dapat membantu pembacaan suatu karya visual yang notabene taklain dari bermain dengan berbagai simbol dan tanda.

Meskipun Aji menggunakan Rembulan hanya sekedar ekpresi utama dalam merayakan jarak, sebetulnya ia secara tidak sadar sudah menggunakan bulan secara utuh, dimana perubahan perasaan, kerinduan terhadap perempuan dan kegalauan merupakan perulangan pengalaman yang terkonversi dalam simbol Bulan.

YANG PERLU DIPERHATIKAN

Bukufoto merupakan kesatuan utuh, ia tidak sekedar medium perantara bagi fotografer untuk mempresentasikan karyanya. Bagaimana bentuk Bukufoto itu dibuat dapat mempengaruhi presentasi akhir karya tersebut; dapat menguatkan atau melemahkan. Jörg Colberg mengatakan bahwa Bukufoto idealnya menyajikan versi realisasi penuh dari sebuah karya fotografi dalam bentuk objek yang sangat spesifik[2]. Hal Inilah yang menurut saya kurang diperhatikan dalam bukufoto meriwayatkan jarak dan Rembulan yang Terserak milik Aji.

Bukufoto ini berdimensi 26cm x 18cm. dengan dimensi seperti ini, barangkali ini yang membuat Aji menyebut karyanya sebagai Jurnal, karena dimensinya serupa dengan jurnal ilmiah dikampus – kampus. Tapi rasanya proyek ini lebih tepat disebut diary daripada Jurnal, karena bentuk karyanya yang sangat personal dan sentimentil. Maka dari itu saya rasa dimensi ini bukanlah pendekatan yang tepat untuk proyek seperti ini. Selain itu, penggunaan kertas pun tak luput dari perhatian saya. Apakah pemakaian kertas bertekstur lembut cocok dengan pendekatan proyek yang memiliki nuansa ‘suram’ seperti itu? saya rasa tidak. Bukufoto adalah kesatuan utuh, materialnya dapat menjadi Tanda / ekspresi Bahasa tambahan untuk menyempurnakan isinya. Namun, dengan dimensi buku dan Karakter kertas seperti itu, menurut saya justru mereduksir kualitas karya yang ingin dipresentasikan. Bukufoto kehilangan energinya dan seakan hanya menjadi katalog pameran. Ketahanan buku juga menjadi penting, Saya mengatakan ini karena Setelah saya bolak balik untuk mendalami bukufoto ini, ternyata beberapa halamannya terlepas dari buku tersebut. Entah memang karena proses jilid yang tidak sempurna atau hanya kesialan saya saja.

Apa yang saya bicarakan mengenai material sebenarnya sudah terjawab Ketika salahsatu panelis kelas selasar[3] bertanya mengenai pemilihan harga yang murah dan material yang biasa, dan Aji menjawab (koreksi jika salah) itu memang harga yang pantas, dan ia menginginkan harga bukufoto mendekat ke buku teks agar dapat dibeli siapa saja. Untuk material ia mengatakan ingin yang simple dan ringan, dan tidak menyulitkan (karena waktu yang terbatas untuk ‘ngulik’ material) maka dari itu menggunakan yang ada dan cepat.

BIO PENULIS

Arifan Sudaryanto, Lahir Di Bandung 23 September 1996. Sembari bekerja, Saat ini ia sedang melanjutkan program Studi jurusan Hukum Disalahsatu universitas dikota Bandung. Dalam Ranah Fotografi, telah melahirkan beberapa anak rohani dalam bentuk PhotoZines, Bukufoto, Pameran kolektif, dan pada Oktober 2020 lalu baru saja melaksanakan Pameran Bersama Arif Sahroni di Galeri RWD Kota Bandung.


[1] DR. Stephen Palumquist. The Tree of Philosophy. Philopsopsychy Press. 2000.

[2] Jörg Colberg. Understanding Photobooks. Routledge. 2017

[3] Artist Talk Yang dilaksanakan secara Daring pada tanggal 1 februari 2021

(Visited 184 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *