Site Overlay

ULASAN BUKU FOTO “THE RIDERS OF DESTINY” – Romi Perbawa

THE RIDERS OF DESTINY

Sebuah Esai Foto Karya Romi Perbawa

Kiriman buku Au Loim Fain dari Yayasan Panna baru saja tiba.  Sudah tak sabar rasanya ingin meng-unboxing-nya, namun berhubung sedang pandemi, karantina paket adalah bagian protokol kesehatan yang kami sepakati terkait penerimaan kiriman barang, jadinya saya pendam dulu hasrat untuk buru-buru menikmati buku foto terbaru karya Romi Perbawa.  Sambil menanti masa karantina buku tersebut usai, saya buka kembali The Riders of Destiny monogram pertama Romi yang monumental itu. 

Buku yang saya miliki ini adalah edisi awal yang diterbitkan oleh Galeri Foto Jurnalistik Antara (2014).  Sehingga sosok awal inilah yang akan coba saya ulas.  Karya fotografer kelahiran Kutoarjo, Jawa Tengah ini mendapat apresiasi yang tinggi dan luas secara internasional.  Buku ini kemudian diterbitkan kembali oleh Afterhours dengan sejumlah perubahan, diantaranya kaver, sekuen dan adanya tambahan kata pengantar yang ditulis oleh John Stanmeyer fotografer Amerika Serikat pemenang penghargaan World Press Photo.

The Riders of Destiny berkisah tentang joki-joki belia balap kuda atau pacoa jara (dalam bahasa setempat) dari Pulau Sumbawa.  Romi bukanlah orang pertama atau satu-satunya yang mengangkat kisah ini.  Wilayah Indonesia bagian timur khususnya Sumbawa ini termasuk tempat favorit bagi traveler dan fotografer.  Bentang alam, manusia dan budayanya termasuk pacoa jara didalamnya sangatlah fotogenik.  Foto-foto tentang Sumbawa dan kehidupannya dengan pendekatan piktorial sangat banyak jumlahnya dan itu semua mudah ditemukan dan dilihat di dunia maya.

Romi mengesampingkan hal itu dan kitapun tak perlu menilai album ini dari sisi komposisi dan hal teknis lain karena konten yang ditawarkannya luar biasa menarik.  Ia memilih menyukai jalur fotografi dokumenter.  Genre ini mungkin telah memikat sang pengusaha ini sejak awal ketertarikannya pada fotografi, yaitu saat ia menemukan tumpukan foto-foto jadul di rumah sang kakek.  “Kekinian mendadak terenggut oleh kenangan masa silam.  Waktu seperti diputar mundur oleh imaji foto-foto lawas koleksi keluarga.  Dia tersadarkan betapa kekuatan fotografi mengemudikan sebagian dari hidup manusia”, demikian Oscar Motuloh yang bertindak sebagai kurator menuliskan awal sang fotografer menemukan fotografi.  Sebagai tambahan informasi, penggunaan sebutan kurator sungguh tepat dalam kasus ini, karena The Riders of Destiny ini tak hanya melulu buku ia juga hadir dalam bentuk pameran foto.  Sejatinya istilah kurator lebih tepat digunakan dalam ruang lingkup pameran.  Kurator adalah orang atau tim yang menjembatani dari karya yang dihasilkan perupa dan publik sebagai penikmat karya.

Seorang anak mengenakan penutup kepala dan wajah balaclava sehingga menyisakan sepasang mata yang menatap tajam ke depan, mulut terkatup tapi tidak merengut, bertelanjang kaki, tangan kanan membawa tongkat pelecut untuk memacu sang kuda yang ia tunggangi tanpa pelana.  Debu-debu berhamburan di belakangnya menjadikan mereka yang tertinggal buram pandangannya.  Foto yang dipilih menjadi sampul muka buku ini pararel dengan teks yang ditulis Aba Du Wahid, seorang budayawan dari Bima, “Anak-anak itu membara! Membara sekujur tubuhnya dipanggang oleh terik matahari di lintasan pacuan kuda, dan legam dikepung oleh deru debu panas”.

Selanjutnya foto-foto kuda, lanskap, lanskap dan kuda, lanskap dan anak, anak-anak, anak-anak dan kuda, manusia dan kuda, gerbang start, detail shot dan macam-macam obyek lain disusun dengan urutan sedemikian rupa dan mengisi halaman demi halamannya.  Meski berukuran layaknya coffee table book namun penulis merasa buku ini layak disebut photobook atau bukufoto, bukan sekedar buku fotografi yang menampilkan cerita foto biasa dan deskriptif atau menampilkan segala hal yang menarik minat sang fotografer.  Foto-foto dipilih, disusun dan diurutkan hingga membentuk narasi tertentu yang merupakan statement sang fotografer, sebuah esai visual tentang betapa keras dan berbahayanya pacoa jara bagi para joki belia.

Untuk mendukung pernyataan sang fotografer maka imaji yang dipilih adalah wajah-wajah tegang dan mimik serius para belia mendominasi gambar terpilih yang disajikan.  Ekspresi itu mengiringi adegan-adegan kerasnya latihan dan pertarungan di lintasan balap.  Ada yang mengangkat piala namun ada juga tangis, seringai kesakitan mengiringi jatuh, kegagalan dan bahkan tragedi bagi sang joki.  Hanya sedikit ekspresi keriaan yang terlihat di raut para belia ini.  Keseharian mereka seakan tak bisa dilepaskan dari hal-hal yang terkait kuda.  Imaji anak sedang sekolah atau belajar kurang dari jumlah jari di kedua tangan banyaknya, pararel dengan hilangnya 90 hari bersekolah yang hilang tiap tahunnya dimakan jadwal lomba.  Mimpi dan masa depan mereka ada di arena kuda pacu, karena uang akan datang dan menghidupi sang juara dan uang juga mengalir di antara penonton yang bertaruh.  Sayangnya tidak tersedia caption yang mendampingi setiap foto.  Informasi yang ada sebatas keterangan tempat di mana masing-masing foto dibuat.           

Total terdapat sebanyak 90 foto (termasuk kaver) hitam-putih yang mengharu-biru menghuni lembar demi lembar buku berformat potret berukuran 21.5 x 27.5 cm ini.  Romi jelas datang berkali-kali ke Sumbawa.  Kabarnya ia perlu 4 tahun untuk memotret cerita ini sehingga ‘sempurna’.  Tentu ia melalui proses pendekatan hingga akhirnya diterima oleh subyek fotonya.  Foto-fotonya terasa dekat karena kehadirannya telah diabaikan dan lagi dirasakan sebagai tamu.  Empati dan mengetahui persoalan yang diangkat yang membuat foto-fotonya bisa berbicara.

Tujuh puluh enam foto dengan pendekatan fotografi dokumenter ditambah 14 seri profil para joki cilik dengan pendekatan fotografi ala studio potret.  Foto-foto profil ini muncul dan menyela di halaman 94 hingga 107.  Kehadiran potret-potret ini di antara halaman-halaman foto dokumenter yang begitu hidup ini penulis rasakan sedikit mengganggu mood dan alur cerita yang ada.  Pilihan gaya pencahayaan dan latar belakang dari kain hitam yang rapi dan mulus dalam serial potret joki cilik ini terasa terlalu berbeda dan kontras dibanding foto-foto lain yang cenderung grainny.  Penulis membayangkan jika potret ini ditempatkan dalam bab terpisah di bagian akhir mungkin akan lebih baik.  Pilihan lain adalah memisahkan seri potret tersebut menjadi buku tersendiri, mungkin bisa dipikirkan untuk proyek buku yang akan datang.  Namun hal ini tak membuat buku ini berkurang nilainya.  Bagi mereka yang gemar fotografi dokumenter, The Riders of Destiny adalah salah satu buku yang wajib dimiliki. 

Penulis:
Toto Santiko Budi, fotografer lepas dan penikmat fotografi

(Visited 244 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *