Site Overlay

ULASAN BUKU FOTO “BEFORE TOO LATE”-Regina Safri

Teriak di Jalur Sepi Before too Late

Sharing is caring!

Saat yang lain teriak-teriak perlindungan alam liar  di media sosial, dari jalur senyap Regina Safri melaju pelan, mengisahkannya dalam bentuk kompilasi naratif isu lingkungan. Buku yang dipublikasi oleh penerbit independen, mengetengahkan hasil langlang mata, keprihatinan perlindungan hewan mamalia besar dan suku adat yang kini jatuh di titik nadir.

Rere sapaan akrabnya, meluncurkan ringkasan petualangannya selama tiga tahun lebih, dengan judul Before Too Late: Sumatra Forest Expedition (2019). Buku setebal 116 halaman, dengan nomor ISBN 978-602-53674-1-0, dipublikasi oleh Gueari Galeri, menghimpun perjalanan Rere dari 2013 hingga 2016,  di beberapa belahan negeri Andalas. Ia bertandang dalam rangka liputan dan sebagian besar dalam kegiatan perjalanan pribadi bersanding dengan beberapa lembaga swadaya asing, lembaga konservasi dan Taman Nasional.  Perjalanan dilakukan tidak runut sesuai arah letak geografis, namun berdasarkan kesempatan dan kebutuhan. Di Riau turut dalam patroli gajah bersama NGO WWF, di Tesso Nilo. Di Bukit Barisan Lampung, bergabung dengan Tambling Wildlife Nature Conservation (TWNC) yang dimiliki pengusaha nasional Tommy Winata. Di Jambi bergabung dengan Frankfurt Zoological Society (FZS) menyusuri Sumay. Di Lampung Rere memberikan perhatian khusus terhadap gajah-gajah, di bawa pengelolaan Taman Nasioan Way Kambas. Di Aceh menelurusuri dataran tinggi Takengon, bersama tim TFCA, dan untuk komunitas orang utan, Rere berkesempatan berkunjung ke Bukit Lawang.

Buku ini mengisahkan aktivitas perlindungan hewan dan lingkungan masyarakat adat. Pendekatannya gaya populer, bukan studi kuantitatif, namun kebenaran data yang ditulis tentunya melalui referensi yang bisa dipertanggung jawabkan. Isinya mudah diikuti, mengingat latar belakang penulis adalah pewarta foto, sehingga pendekatannya menggunakan bahasa populis. Dalam struktur penyusunan bukunya, Rere selalu mendampingkan narasi dengan foto, menandakan  ia merasa perlu mengarahkan sidang pembaca pada intensi si penulis. Jelas dengan pendekatan seperti ini, fungsi teks menggiring lebih dalam, saat memaknai gambar. Tentunya drama-drama muncul akibat tafsir teks yang luas oleh sidang pembaca, karena keterbatasan ruang “baca” visual. Hal demikian bisa dimaklumi, karena visual fotografi memiliki keterbatasan informasi, ada data yang tidak tampak dalam gambar, kurang lebih begitu.

Rere mantan pewarta foto di LKBN ANTARA, pernah menerbitkan beberapa buku, yang pernah menerbitkan buku pertama “Membidik Peristiwa Jadi Berita (2012), kemudian buku berikutnya “Orangutan Rhymes and Blues (2012)”. Seiring waktu menggiringnya kepada isu-isu yang berkaitan dengan lingkungan, sehingga “terdampar” menjadi fotografer pribadi Susi Pudjiastuti. Dari pengalamannya sebagai jurnalis, mengarahkan buku berikutnya menjadi lebih dalam, sebagai ungkapan keprihatinan dengan kondisi fauna liar yang hidup berdampingan dengan kepentingan manusia.

Rere cenderung mengambil sikap pembelaan terhadap mamalia besar dan masyarakat tradisi yang semakin digilas oleh kapitalisasi. Memang telihat nampak terlalu naif, sehingga Rere perlu memperkuatnya dengan pernyataan opini pribadi. Pada artikel Kisah Sedih Erin, ia mendeskripsikan kondisi anak gajah bernama Erin. Belalainya buntung akibat jerat pemburu, menyebabkannya kesulitan untuk bertahan hidup. Di akhir alineanya, Rere menuliskan dengan tajam “… saya mohon STOP lakukan itu lagi. Sadar tidak yang kalian lakukan itu menyakiti, merusak dan mengganggu ekositem”. Tentunya yang dimaksud kalian adalah para pemburu ilegal yang sering beroperasi di bebeapa wilayah di hutan Suamtra. Opini demikian sah-sah saja, namun sebaiknya kerja fotografi tidak memihak tetapi menyajikan fakta visual. Walaupun fakta tersebut bisa diatur sedemikian rupa, di balik jendela bidik ditentukan sesuai keinginan melalui teknik pemotongan (croping). Foto yang dihadirkan di pilih oleh Oscar Motuloh sebagai editor foto, sedangkan teks sepenuhnya milik Rere. Bisa dibayangkan berapa ratus gambar yang diserahkan untuk di edit, mengingat perjalanan penggarapan buku ini cukup panjang. Biasanya pihak editor akan tahu persis, mengatur irama visual yang dihadirkan dalam kompilasi buku.

Dalam penyajiannya sangat diperlukan letak geografis melalui grafis peta Sumatra, agar pemirsa bisa mendudukan bingkainya di ruang wilayah peta Indonesia. Kesadaran ruang geografis Indonesia, saat ini menjadi abai mengingat begitu luasnya negeri ini.  

Untuk pemilihan judul, saya menduga Rere ingin masuk di kancah internasioal, sehingga buku ini bisa diakses secara oleh pengguna bahasa di luar bahasa Indonesia. Dengan demikian konsekuensinya, pemilihan judulpun menggunakan bahasa Inggris. Pemilihan diksi judul, terkesan literal baik yang tersurat maupun tersirat. Dalam kesempatan ini saya merasa perlu menyampaikan agar Rere perlu mempertimbangkan kembali, agar judul bisa memikat sidang pembaca seketia. Penekanan judul sebagai ujung tombak perhatian, bisa dipertegas dengan merangkai kalimat singkat di sub judul. Penggunaan kata “expedition” buat saya terasa berat, karena kandungan makna ekspedisi itu biasanya bersifat saintifik, metodenya kuantitatif serta biasanya menjadi laporan teknis untuk rujukan. Sedangkan pendekatan buku ini adalah reportase personal,  visual diari keprihatinan dibunggkus dengan pernyataan pribadi. Dengan demikian kesan yang saya terima selalu mengenai keprihatinan, seakan-akan tidak ada secercah asa yang tersisa. Rere benar-benar telah menutup kisah sedih disetiap bait visualnya, sehingga mengupas setiap halamannya selalu dirundung duka. Mungkin tema tersebut menjadi tujuan penyusunan album foto ini, teror. Ibarat kodok yang dipanaskan di dalam wajah penuh air, ia tidak akan beranjak karena sifatnya adaptif terhadap panas, sehingga abai dengan kerusakan lingkungan. Saya kira Rere tugas Rere adalah mengajak “the big picture” kondisi lingkungan Indonesia.

Bentuk buku ini disebut coffe table book, dan dianggap pas kata Andi Ari Setiadi yang bertindak sebagai perwajahan. Ukurannya 25 cm x 20 cm, sehingga cocok bila foto di pasang dua halaman penuh. Selain itu dianggap tidak terlalu menyulitkan pada saat memegang ataupun membawa buku ini. Sebagian hasil penjualan buku ini akan diserahkan langsung sebagai bantuan kecil, untuk kegiatan konservasi di TN Way Kambas. Untuk pembelian buku secara lansung, bisa mendatangi gerai penjualan langsung di Santa Modern Market, Jakarta.

Saya menganjurkan sahabat untuk segera memiliki buku ini, sebagai bentuk dukungan usaha insan negeri ini, kepedulian melalui garapan photo book yang menyoal isu lingkungan. Rere tidak ingin disanjung, dipuji, tetapi ingin bukunya (karyanya) dibeli.

Pengulas
Deni Sugandi, Geofotografer, writer, earth science enthusiast

(Visited 144 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *