Site Overlay

ULASAN BUKU FOTO “SEMUT RANGRANG” – Teguh Santosa

Semut Rangrang, Mengenal Dunia Kecil untuk Anak-anak

Perkembangan genre fotografi makro (macro photography) di Indonesia sangat pesat untuk beberapa tahun terakhir. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya kegiatan foto yang bertemakan fotografi makro, banyaknya klub foto atau grup sosial media yang khusus untuk fotografi makro, dan banyaknya fotografer Indonesia yang menang di lomba foto baik nasional maupun internasional melalui foto-foto makronya.

Genre Macro Photography sendiri sebenarnya rancu karena genre ini bukan berdasarkan subyek foto seperti landscape photography atau fashion photography. Genre ini justru berdasarkan alat yaitu lensa macro (atau micro) yang mampu melakukan pembesaran minimal berbanding sama (1 banding 1) antara obyek foto dengan perekamannya. Namun batasan ini akhirnya juga lebih longgar karena setiap obyek foto yang kecil akan dianggap sebagai foto makro. Obyeknya fotonya sendiri bisa berupa produk-produk kecil seperti perhiasan, mainan, makanan atau juga mahkluk hidup seperti serangga. Dan untuk perkembangannya di Indonesia, foto makro lebih banyak dipahami sebagai foto serangga yang kecil. Sementara di fotografi dunia secara umum, obyek serangga akan masuk dalam kategori nature atau wildlife photography.

Dan dengan sangat populernya obyek makro serangga ini, beberapa kelompok penggiat fotografi makro seperti forum Hunting Akbar Macro Nusanta (HAMN) yang diadakan setiap tahun dan telah masuk tahun ke 8 di tahun 2020 kemarin, membagi fotografi serangga ini dalam 3 kategori yaitu Nature untuk foto serangga yang dipotret secara alami di habitatnya, Stage untuk foto serangga yang dengan sengaja dikonsep atau diseting (staging) dan Extreme untuk foto serangga dengan pembesaran ekstrim. Sedangkan untuk obyek non serangga akan dimasukkan dalam kategori still-life.

Salah satu tokoh yang tidak bisa dilepaskan dalam perkembangan fotografi makro Indonesia adalah Teguh Santosa. Fotografer dengan dua cucu yang biasa dipanggil Pakdhe Teguh ini telah menerbitkan beberapa buku foto dan salah satunya adalah “Bersujud Aku dalam Detail CiptaMu” pada tahun 2013 yang berisi foto-foto makro indah hasil jepretannya. Dan kali ini Pakdhe Teguh menerbitkan lagi buku makro yang lebih “ringan” yang diberi judul “Semut Rangrang”.

Buku kecil yang sekilas mirip buku saku ini terdiri dari 40 halaman, berisikan 36 foto semut rangrang atau Weaver Ant (Oecophylla) dengan berbagai perilakunya yang semuanya difoto dengan pendekatan makro yaitu difoto dari jarak sangat dekat. Buku ini diterbitkan oleh PT. Magna Citra Dimensi dengan ukuran 17,5 cm x 17,5 cm yang desain dan tata letaknya dikerjakan sendiri oleh Pakdhe Teguh Santosa. 

Buku ini secara ukuran terasa pas ditangan anak-anak usia 3 sampai 7 tahun yang kemungkinan menjadi pangsa pasar utama buku ini. Kemampuan Pakdhe Teguh Santosa di fotografi makro menghasilkan foto-foto semut rangrang dengan detail dan keindahan yang mengagumkan yang akan memanjakan mata anak-anak yang cenderung menyukai warna-warna cerah dan indah.

Buku ini dibuka dengan sapaan dari penulis untuk para pembacanya yang dilihat dari gaya bahasanya jelas ditujukan untuk anak-anak. Narasi di tiap halamannya ditulis dengan kata-kata singkat dan dengan gaya informal yang seolah-olah mengajak anak-anak untuk berpetualang di dunia semut rangrang.

Walaupun buku ini ditujukan untuk anak-anak usia pra dan awal sekolah, namun untuk anak-anak dengan usia lebih dewasa masih bisa menikmati buku ini karena dunia kecil yang diceritakan adalah dunia yang akrab dengan mereka yang cenderung terlewati begitu saja tanpa menyadari bahwa dunia kecil tersebut ternyata indah dan mengagumkan. Dan dengan perkembangan fotografi digital yang cenderung lebih gampang dan lebih murah, maka tidak heran jika nanti ada anak-anak yang terinspirasi untuk mulai memotret dunia serangga setelah membaca buku ini. Selain dari keindahannya, ada beberapa hal masih bisa disempurnakan dari buku ini seperti ukuran foto semutnya yang cenderung sama di tiap halaman. Ditambah dengan tata letak yang semuanya memenuhi satu halaman atau dua halaman, cenderung memicu rasa bosan ketika menyusuri halaman per halaman. Hal ini bisa dirubah dengan mengatur foto-foto dengan ukuran yang lebih dinamis dan tata letak yang tidak melelahkan mata.

Buku ini sendiri memiliki proses pembuatan yang “terbalik”, artinya foto-foto telah dihasilkan lebih dulu baru kemudian cerita dibuat dan kemudian dipilih foto yang sesuai dengan cerita tersebut. Hal ini terlihat seperti di halaman 4 yang bercerita tentang rumah tinggal semut rangrang yang berupa pepohonan, namun foto yang ditampilkan adalah kerumunan semut rangrang. Foto tentang pohon itu sendiri tidak ada. Sama dengan cerita bahwa semut rangrang tidak pernah tersesat, alih-alih menampilkan foto semut yang berjalan-jalan menyusuri tanah atau batang pohon justru menampilkan foto semut rangrang yang berebut makanan.

Apabila kita memakai kacamata EDFAT (Entire, Detail, Frame, Angle dan Time) untuk melihat cerita dalam buku ini, maka kita akan berhenti di Detail karena semua foto ditampilkan dengan pendekatan tersebut. Sementara unsur yang lain seperti Entire atau Angle tidak terceritakan. Maka buku ini lebih tepat disebut sebagai buku foto dari pada buku fotografi, karena lebih menampilkan foto-foto sebagai menu utamanya, sedangkan narasi lebih sebagai pelengkap foto.

Karena buku ini diberi sub judul “Seri Dunia Kecil”, maka kita berharap akan ada seri-seri foto serangga berikutnya. Dan mungkin untuk buku-buku berikutnya, kita bisa melihat pendekatan buku fotografi yang digunakan, artinya narasi cerita dalam buku menjadi menu utamanya sedangkan foto-fotonya akan menjadi ilustrasi pelengkap narasi tersebut. Sehingga tujuan untuk menambah referensi atau pengetahuan anak-anak tentang dunia serangga akan lebih utuh.

Bagaimanapun juga penerbitan buku kecil ini layak dirayakan. Sampai saat ini belum banyak buku-buku pengetahuan yang dihiasi foto-foto bagus yang khusus diperuntukkan anak-anak dan diterbitkan oleh fotografer lokal. Dan untuk anak-anak Indonesia, selamat menikmati buku indah ini.

Agus Nonot Supriyanto

Family-man yang suka pencet shutter dan mencium aroma kertas buku.

(Visited 170 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *