Site Overlay

ULASAN BUKU FOTO ” REBEL RIDERS”- Muhammad Fadli

Rebel Riders

Fotografi oleh Muhammad Fadli
Penerbit Dienacht Publishing, Jerman
Hardcover, clothbound with embossed image and foil stamping on the cover and back cover.
20×28 cm, 128 halaman (buku).
26×36 cm, lipat, 24 halaman (suplemen berisi indeks dan caption).
11 lembar stiker komunitas vespa ekstrem.
Desain oleh Calin Kruse/FLUUT Grafik-Design bersama Yana Kruse.
ISBN: 978-3-946099-26-0

Ulasan:

“Mirip album foto keluarga”, kata istri saya saat melihat Rebel Riders, karya fotografer Muhammad Fadli yang tergeletak di meja ruang tamu.  Komentar di atas lantas membuat saya – untuk kesekian kalinya kembali menengok dan ‘membaca’ isinya.  Saya coba menuliskan kesan saya pada buku foto yang sudah setahun lebih ada di rak buku dan menjadi anggota perpustakaan pribadi di rumah.  Ulasan ini sebatas apa yang saya lihat dan baca dari apa yang terlihat dan rasakan secara fisik.  Saya tidak mempunyai data soal proses dibalik layar pemotretan, pemilihan, pengurutan, dan seterusnya yang melibatkan antara pihak fotografer dan penerbit.

Buku ini berukuran 20×28 cm dalam format portraitHardcover berlapis bahan semacam kain bertekstur dan berwarna coklat terang.  Pada bagian agak ke atas dari cover (sampul) depan menempel selembar cetakan foto yang menyita lebih dari 50% dari total luas bidang sampul. 

Foto itu adalah potret seorang pria muda usia yang sedang menduduki sebuah pokok kayu panjang.  Pada bagian bawahnya tampak sejumlah roda.  Orang itu memegang cabang atau ranting yang bentuknya laksana stang kemudi.  Bendera Indonesia – merah putih ada di salah satu ujung rantingnya.  Terdapat banyak roda padanya.  Selanjutnya bila diamati dengan seksama terlihatlah sebuah mesin berbentuk khas – para penggemarnya akan mudah mengidentifikasinya sebagai mesin Vespa skuter buatan Italia.  Meski aneh bentuknya, namun adanya tempat duduk, stang kemudi, mesin dan roda pada benda itu membuat kita bisa mengidentifikasikannya sebagai kendaraan bermotor.  

Judul Rebel Riders ada di sisi bawah sampul buku bagian depan.  Ukuran huruf relatif kecil dan dicetak timbul, di atasnya ditulis nama sang penyusun/fotografer, keduanya menggunakan huruf-hurufnya berwarna tembaga metalik.  Judul dan gambar sampul biasanya mewakili dan menggambarkan isi.  Pun demikian dengan buku ini, dari melihat visual yang ada pada sampul depannya, kita menduga bahwa isi buku ini akan berkisah tentang para penunggang kendaraan aneh.  Mereka yang memodifikasi kendaraan klasik Italia itu menjadi sedemikian rupa bentuknya bahkan terbayangkan dalam imajinasi terliar sekalipun.  Kreativitas itu hanya dimiliki mereka yang berjiwa ‘pemberontak’..

Pada bagian back cover atau sampul bagian belakangnya terdapat artwork yang dicetak timbul.  Gambarnya cukup seram, berupa tengkorak dengan ceruk kedua matanya menyala api berwarna tembaga.  Simbol cross pattée yang mirip dengan simbol pasukan tentara Italia pada Perang Dunia II ada di bagian belakang sosok tengkorak berhelm hitam itu, warnanya juga sama dengan sang api.  Sejatinya gambar tersebut merupakan adaptasi bentuk dari logo salah satu kelompok skuter ekstrem.  Secara keseluruhan Rebel Riders mempunyai desain perwajahan sampul yang clean alias sederhana.  Daya tarik utama sampul depan terletak pada obyek fotonya.  

Secara teori ada panduan tentang bagaimana cara membaca buku foto, namun cara menikmati buku foto bisa jadi berbeda antara satu orang dengan yang lain.  Saya biasa melihat sekilas semua materi yang ada dengan cara membuka satu demi satu halaman buku tanpa berhenti dari foto pertama hingga terakhir dengan agak cepat.  Kemudian mengulangnya lagi dengan lebih lambat dan bisa saja berhenti cukup lama di bagian foto yang menarik bagi saya.  Setelah puas menikmati foto-foto, barulah saya beralih ke halaman teks dan membacanya.

Usai mengamati sekilas setiap halamannya, predikat sederhana sebagaimana perwajahan sampulnya kembali saya sematkan disini.  Tak banyak teks di dalamnya.  Hanya ada 4 lembar dari total 128 halaman yang mengandung teks.  Judul dan nama fotografer, kata pengantar, semboyan khas perkumpulan skuter ekstrem, dan ucapan terima kasih.  Indeks dan caption dan keterangan masing-masing foto ada di sisipan buku yang bentuknya berupa lembaran-lembaran tak berjilid, serupa koran yang dilipat dan berukuran 26×36 cm.  Lembaran ini juga dicetak terpisah dalam jumlah besar untuk dibagikan secara gratis bagi komunitas.  Penerbit juga menyisipkan stiker-stiker berdesain otentik masing-masing klub skuter ekstrem sebagai bagian buku foto ini.

Rebel Riders ini bukanlah buku foto portrait series, namun monogram pertama karya fotografer kelahiran Sumatra ini terasa kental nuansa potretnya.  Genre ini adalah salah satu spesialisasi dan kekuatan dari sang editor foto majalah Forbes Asia ini.  Awalnya proyek ini dibuat saat mengikuti workshop masterclass Southeast Asia Photography Masterclass dari Obscura  Photography Festival di Penang 2016, cerita tentang sub kultur vespa ekstrem ini diajukan sebagai syarat kelulusannya.

Tak ada penambahan unsur grafis sebagai pemanis di setiap halamannya.  Begitu sederhana desainnya, bahkan nomer halaman pun tak ada.  Tentu para desainer melakukannya dengan sengaja dan beralasan.  Saya menduga kesederhanaan dipilih karena mereka tak ingin pembaca terganggu kenikmatannya saat menikmati halaman demi halaman buku foto tersebut.  Aksen artistik tak diperlukan karena tema dan visual karya sang fotografer unik dan kuat.

“The iconic Italian Vespa by Piaggio holds a special place in the hearts of Indonesian motorists”,

demikian Fadli menuliskan kalimat pertama di halaman pengantar bukunya.  Saat menjumpai kata vespa dalam benak kita otomatis muncul gambaran kendaraan berbentuk skuter yang khas.  Sebuah motor klasik yang sebagian posturnya sekilas mirip VW beetle.  Meski sudah dibocorkan melalui gambar sampulnya, keterkejutan saya tetap terbit saat melihat rupa-rupa bentuk Vespa pada lembar-lembar halaman setelah pengantar itu.  Apa benar itu adalah vespa?  Benarkah ia bisa dikendarai?

Tiga portrait pertama dalam buku ini menampilkan Iponk bersama anak dan rekannya (Sumatra Selatan); Bedul dan Ucil (Jakarta Timur); dan Fajar ‘Bajaj’ Purboyo (Tangerang Selatan).  Mereka  duduk atau berdiri (menghadap kamera) di kursi kemudi skuter masing-masing yang bersespan (kereta samping) dan beroda banyak.  Pemotretan dilakukan di tempat terbuka.  Apperture diatur sedemikian sehingga latar belakang yang dihasilkan tidak tampak terlalu bokeh, kita masih bisa mengenali jalanan, pepohonan dan kawasan perumahan.  Aliran potret semacam ini dikenal sebagai environmental portraiture.  Setidaknya terdapat 30-an potret dengan pendekatan tersebut di atas diterapkan Fadli dalam proyek ini.

Vespa gembel atau vespa sampah adalah julukan orang-orang untuk kendaraan yang memang aneh ini.  Namun  sang author tampak tidak tertarik untuk mengeksploitasi status tersebut.  Para pengendara sekaligus pemilik dari kendaraan itu adalah tokoh utamanya.  Sang juri kontes World Press Photo 2021 ini, memanfaatkan teknik memotret guna mereduksi kesan kumuh.  Salah satu caranya adalah dengan mengatur tone warna dan tingkat kekontrasan yang cenderung rendah diaplikasikan oleh sang fotografer pada setiap foto.  Kamera diposisikan setinggi mata obyek, atau sedikit dibawahnya (low angle), alhasil aura kebanggan (pride) para pemilik vespa ekstrem bisa kita rasakan.  Mereka seakan berseru: “Lebih baik naik Vespa”!    

Selain potret, dalam buku ini bisa kita jumpai foto-foto detail kendaraan, kostum dan aksesoris yang dikenakan (sebenarnya ini portret juga sih ya), dan acara kumpul-kumpul komunitas.   Nyaris tidak ada aksi dari kisah sub kulture otomotif yang beririsan dengan musik metalhead, punk, rastafarian dan sejenisnya.  Sebuah foto aksi muncul di antara potret, yaitu saat skuteris menikmati konser musik pada sebuah lapangan berlumpur di Bogor.  Halaman berikutnya masih dari momen yang sama namun Fadli kembali pada ‘khitah’nya dengan menampilkan kembali potret Uje pemotor dari Kemayoran.

Total terdapat 73 imaji (termasuk sampul).   Foto-foto tersebut berbentuk bujur sangkar dan mempunyai ukuran yang sama, 18×18 cm.  Sebagian besar menempati di sisi kanan halaman buku terbuka (halaman ganjil), kecuali 12 set foto yang bersisian.  Posisi foto di setiap bidang halaman pun sama, agak ke atas,  desain ini mengingatkan saya akan format film instan polaroid.  Hal tersebut membuat ada cukup banyak bidang kosong di sisi bawah.  Sah-sah saja bila pemilik buku kemudian memberi sentuhan personal pada bidang kosong tersebut semisal dengan menempelkan stiker-stiker komunitas itu di sana misalnya.

Terakhir, menikmati buku terbitan Dienacht Jerman ini tak perlu kerut kening, tak perlu sibuk menggali dan membaca elemen-elemen visual seperti komposisi maupun hal-hal lainnya.  Setiap halaman bisa saya nikmati secara individual tanpa harus berurutan.  Saya sebenarnya berharap ada informasi tambahan dalam teks, terkait latar belakang setiap skuteris.  Tentu menarik bisa mengetahui soal latar belakang profesi, berapa lama mereka membangun kendaraannya dan berapa dana yang dihabiskan untuk membangun sebuah kendaraan yang ‘menantang’ untuk dikendarai.  Namun ketiadaan hal tersebut tak mengurangi nilai dari buku yang menarik ini.  Demikian menurut saya. (Toto Santiko Budi; Fotografer independen dan Penikmat Foto)

(Visited 304 times, 2 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *