Site Overlay

BUKU FOTO DAN BAGAIMANA SAYA MEMBACANYA

Bukufoto dan Bagaimana Saya Membacanya

Pembaca yang budiman,
Ada seribu satu alasan buat orang untuk membeli sebuah novel tapi hanya tiga alasan kenapa orang membeli bukufoto. Di Indonesia, alasan itu berkurang dua;yang tersisa adalah pertemanan atau ketokohan. Ini seloroh tetapi sederap jika melihat kenyataan umur bukufoto yang begitu singkat. Tidak butuh waktu lama bagi bukufoto untuk hilang dari peredaran dan berubah statusnya menjadi mitos.


Fotografer yang mencetak sendiri maupun lewat penerbit namun menggunakan dana pribadi, akan menghitung berapa banyak bukufoto yang mampu dicetaknya. Pada fase perencanaan anggaran, fotografer mulai menghitung modal simbolis yang dimiliki ditambah dengan jumlah teman yang akan membeli bukufotonya lewat sistem prapesan. Gambaran kecil ini adalah gejala yang dapat diidentifikasi dari kesadaran kolektif atas skena bukufoto di Indonesia.

Tahun 2018 ketika tulisan awal ini saya unggah di beranda facebook, motifnya adalah mengajak orang-orang dalam lingkaran pertemanan saya yang sebagian besar adalah fotografer untuk mengenal apa itu bukufoto dan lalu membacanya. Ajakan ini bertolak juga dari minimnya wacana bukufoto di Indonesia. Penyebabnya banyak dan masih bisa diperdebatkan, satu diantaranya adalah yang telah saya sebutkan.

Apa itu Bukufoto?

Martin Parr dan Gerry Badger mendefiniskan bukufoto sebagai sekumpulan foto yang disusun oleh fotografer (auteur) atau editor atau kolaborasi keduanya lewat desain sehingga terjalin naratif pada foto dengan tema khusus. 

Jorg Colberg dalam bukunya Understanding Photobooks mengatakan bahwa bukufoto dilihat karena foto yang ada di dalamnya. Ini berbeda dengan buku masak yang juga memiliki foto di dalamnya. Foto di dalam buku masak adalah ilustrasi. Orang membeli buku masak karena ingin melihat resepnya bukan fotonya.

Dewi Lewis sebagaimana dikutip Colberg mendefinisikan bukufoto sebagai jenis buku yang menggunakan fotografi sebagai medium komunikasi visual dalam logika semestanya sendiri.

Pembaca yang budiman,

Definisi adalah batasan, konsep dan ciri yang melekat pada sebuah subyek. Batasan, konsep dan ciri yang melekat ini akan membantu kita dalam memahami subyek. Karena bukufoto memiliki definisi sendiri, ia harus dipahami dan diperlakukan berbeda dari buku fotografi.

Dalam dunia fotografi, umumnya bukufoto dan buku fotografi dipersamakan. Hal ini dilakukan demi kepraktisan yang bermotif ekonomi.

Apakah kumpulan karya sekelompok fotografer yang diberikan pengantar itu bukufoto? Apakah katalog itu bukufoto? Apakah karya retrospektif itu bukufoto?

Bukan.

Karya retrospektif hendak memperliharkan kumpulan foto dari karir seorang fotografer. Sekuens dan editingnya tidak bermaksud menciptakan naratif. Dari tiga jenis buku fotografi ini, buku hanyalah medium di mana foto akan ditempatkan. Pengalaman membacanya adalah melihat foto itu sendiri. Ini berbeda dengan bukufoto yang selain memiliki naratif dengan tema khusus tertentu. bukufoto adalah obyek konseptual yang materialnya dapat memberikan pengalaman kepada pembaca layaknya sebuah partisipasi seni. Seperti dalam Satan (Leon Munoz Santini), bukufoto ini memilih cetak risograf karena tinta hasil cetaknya dapat membekas di tangan pembaca. “Kecelakaan” yang diinginkan pengarangnya untuk dialami oleh pembaca.

Dalam Moises (Mariela Sancari) tata letak disusun sedemikian rupa untuk mengajak pembacanya berperan dalam mencari sosok sang ayah.

Goddes of Pantura (Arum Tresnaningtyas Dayuputri) adalah contoh lain. Dengan penjilidan yang lepas, ia mengikutsertakan pembaca untuk menyusun rangkaian versinya masuk ke dalam panggung dangdut pantura lewat lapisan yang berbeda dengan penciptaan diptych baru. Contoh-contoh di atas bisa berbeda makna pada bukufoto yang lain karena bukufoto memiliki logika semestanya sendiri.

Wujud Bukufoto

Ketika menyebut bukufoto, wujud yang dibayangkan oleh banyak orang adalah sebuah buku. Lebih spesifik lagi, mereka akan membayangkannya sebagai buku yang bersampul keras, berjilid rapih, ukuran besar dan material kertas yang eksklusif. Beberapa fotografer kemudian menggunakan istilah zinefoto karena tidak memenuhi kriteria tadi.

Dewi Pantura berbentuk tabloid.

Trilogi Rumah Hantu (Aji Susanto Anom) berbentuk zine.

Apakah keduanya bukan bukufoto?

Bukufoto lahir dari serial foto yang kemudian dibentuk dengan konsep dari pengarang atau kolaborasi dengan editor dan desainer. Ia dibentuk menjadi sebuah obyek yang utuh. Ini alasan kenapa selama ini saya menuliskannya dengan menyambung bukan memisahkan buku dan foto.

Dalam definisi Parr dan Badger, tidak disebutkan fisik yang berbentuk buku. Ia bisa seperti apa saja. Zine, tabloid, atau koran. The People (Laura El-Tantawy) yang mengisahkan revolusi di Mesir mengambil wujud berupa koran. Seperti yang juga dilakukan Deadline (Will Steacy) yang mengisahkan tentang senjakala berita koran.

Bukufoto tidak harus menjadi buku yang bersampul keras dengan bahan kain dan kertas yang mewah dengan ukuran gigantik, ia bisa mewujud dalam bentuk apa saja.

Mengetahui apa itu bukufoto akan membantu kita ketika membacanya. Mengenali seperti apa bukufoto akan memudahkan kita untuk membicarakannya.

Bagaimana Saya Membacanya

Membaca bukufoto itu seperti makan bubur sebenarnya. Soal cara saja. Boleh dicampur, boleh tidak. Seperti juga bubur, bukufoto memiliki karakteristik yang menjadikannya sebagai bukufoto. Bubur bukan soto, seperti bukufoto bukan novel. 

Saya telah menjelaskan apa itu bukufoto dan apa perbedaannya dengan buku fotografi. Sekarang, Pembaca yang budiman sudah tahu apa yang dihadapi.  

Langkah 1. Kesan

Apa yang ingin saya dapat ketika pertama kali melihat dan membuka bukufoto adalah kesan yang ditimbulkan. Kesan seperti ketika membaca buku puisi atau mendengarkan musik. Saya akan membiarkan diri saya dihanyutkan oleh bunyi, rima dan nadanya. Saya membalik setiap halamannya, mengikuti pengurutannya, melihat tiap foto dalam skala dan sandingan sambil merasakan kertas serta tekstur pada foto. Semua yang ada dalam bukufoto. Jika ada surat atau tulisan, saya akan membacanya di mana surat dan tulisan itu disandingkan dengan foto. Semua urutan itu saya jalani sesuai yang tersaji di dalamnya.


Langkah. 2: Selisik Anatomi

Bagaimana caranya Mariela Sancari mengisahkan pengalamannya sebagai remaja 14 tahun yang ayahnya mati bunuh diri dan membayangkan kemudian seperti apa sosoknya jika ayahnya masih hidup hari ini?. Lewat tata letak.

Bagaimana Naztia Haryanti mengekspresikan perasaannya kepada ayahnya yang telah tiada?. Lewat warna.

Pada langkah ke-2 saya mulai menelisik anatominya. Dari ukuran, sampul, jilid, judul, tata huruf, tataletak, kertas, teks lalu isi.

Ini contoh pembacaan saya dengan selisik anatomi pada Past K-Ville (Mark Steinmetz). Past K-Ville adalah tipikal bukufoto tradisional. Sampulnya sederhana. Tidak ada ornamen tambahan seperti desain Red String (Yoshikatsu Fujii) yang menggunakan benang pada sampul untuk menunjukkan ikatan yang rapuh. Pada Past K-Ville judul terletak di jaket sampul belakang dan punggung buku. Penempatan judul utama di belakang tampak disesuaikan dengan makna judulnya. Sedangkan jaket sampul depan menampakkan foto remaja perempuan dalam posisi tidur di rerumputan dengan mata terpejam. Ini mengingatkan saya dengan citra anak muda tahun 90-an di Amerika yang tampak juga pada karya sineas Sofia Coppola dalam The Virgin Suicides.

Di balik jaket yang menutupi sampul kerasnya tersembunyi simbol kecil berbentuk hati yang berada persis di tengah. Jadi jika jaket buku tidak dilepas, Pembaca yang budiman tidak akan melihat simbol ini.

Sebuah obyek menjadi simbol ketika diakui melalui konvensi dan menggunakan makna yang memungkinkannya mewakili hal lain. Semakin universal sebuah simbol, semakin mudah orang memaknainya. Simbol ini adalah bagian pengungkapan dari serial foto pada isi buku.


Memasuki isi adalah memasuki inti. Dalam Past K-Ville, foto diletakkan di sebelah kanan. Pada setiap halaman ganda hanya disajikan sebuah foto. Foto tidak memiliki keterangan, di mana lokasi, tanggal atau siapa sedang melakukan apa. Foto yang dipersepsikan merekam peristiwa nyata dengan kesetiaan pada realitas dalam Past-K Ville kehilangan sifat dokumenternya. Foto tidak memberikan informasi apa-apa soal ruang. Latar hanya dijadikan dekorasi untuk memberi kekuatan pada karakter subyeknya. Past-K Ville adalah wilayah antah-berantah. Dari sini Pembaca yang budiman bisa saja menarik kesimpulan bahwa Past-K Ville itu fiksi. Tapi apakah itu berarti ia tidak menyampaikan realitas?
Walau tidak memuat keterangan pada foto, Steinmetz memanfaatkan grafiti sebagai teks untuk menyampaikan ceritanya. seperti “forever”, “DAMN, i wish i was your lover”, “LOVESICK” “Lisa, I Love You”, “WHY ME?” yang akan menggiring ingatan pembaca pada temuannya berupa simbol hati yang tersembunyi dalam sampul.

Selisik anatomi saya lakukan karena dalam logika bukufoto, foto tidak cukup memadai untuk bercerita.

Tidak semua bukufoto berhasil membangun naratifnya. Lago (Ron Jude) adalah bukufoto yang tidak saya mengerti tapi suka dengan foto-fotonya. Seperti mendengarkan lagu-lagu Sigur Ros. Saya tidak paham apa yang diucapkan Jonsi. Ron Jude menjadikan foto-foto lanskapnya seperti gumaman dalam senandung. Pembaca diajak melintasi gurun, diperlihatkan benda-benda kecil buatan manusia, sampah, vynil, rumah, bus sekolah, laba-laba dalam botol dan seterusnya. Namun relasi antar fotonya terlalu longgar. Sekuens foto tidak cukup kuat menanggung beban naratifnya. Anatominya tidak bersuara.

Lanagkah 3. Menafsirkan

Ketika teks ditulis, pembaca tidak hadir. Itu sebabnya pembaca menafsirkan apa yang dibacanya. Menafsir adalah usaha menguak makna teks.

Menafsirkan tidak hanya menguak makna yang dimaksud pengarangnya tetapi bagaimana teks dimaknai kehadirannya dalam sebuah karya. Contohnya adalah tafsir saya atas Goddes of Pantura tentang panggung dangdut direpresentasikan. Dalam hal ini, Saya memakai teori feminisme tentang tatapan.

Langkah 4. Menuliskannya

Ini adalah langkah terakhir yaitu dengan menuliskannya. Menuliskannya adalah membaca kembali dengan pengetahuan atas karya yang lebih kaya Menuliskannya adalah membaca sekaligus menfasirkan dan memberikan pandangan atasnya. Menuliskannya, selain memperpanjang umur bukufoto yang singkat, kita memberikan kaki kepadanya.

Demikian, Pembaca yang budiman hal-hal yang dapat saya sampaikan ihwal bukufoto dan pembacaannya.

Homer Harianja

Antagonis, Flaneur, Penikmat bukufoto

(Visited 177 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *