Site Overlay

Bagaimana Membaca Buku Foto?



Bagaimana Membaca Buku Foto? oleh Baskara Puraga

Pertanyaan ini selalu muncul tiap kali saya bertemu dengan kawan yang baru saja “terjerumus” untuk membeli atau sekadar meminjam sebuah buku foto. Tidak jarang pertanyaan ini muncul juga di kelas fotografi yang saya asuh. Terkadang saya sendiri bingung menjawabnya dikarenakan buku foto adalah benda yang sangat spesifik. Tidak pernah saya menemukan buku foto yang dibuat oleh dua orang yang berbeda dan bukunya identik.

Tentunya bukan berarti tidak ada cara-cara atau tips dalam membaca buku foto, hanya saja pendekatannya akan berbeda tergantung individu yang membacanya. Keberagaman buku foto baik secara isi, sampul, cara penjilidan, kemasan dan masih banyak faktor lainnya yang pasti berbeda satu dengan lainnya, menjadikan pengalaman dalam membaca buku foto menjadi beragam.

Buku foto adalah benda yang ajaib. Dia bisa dicetak sangat besar menggunakan sampul keras sehingga gaung dan amplifikasi dari foto yang ada di dalamnya menjadi sangat berat dan terasa penting, dia bisa dicetak dengan sangat kecil dan rapuh sehingga saat membacanya kita membutuhkan kehati-hatian dan perhatian yang lebih seolah kita sedang memegang naskah kuno yang kapanpun bisa hancur. Kemungkinan-kemungkinan tersebut dimaksudkan agar pembaca mendapatkan pengalaman penuh saat menikmati sajian tersebut.

Saya sendiri terbiasa memulai pengalaman membaca buku foto dengan melakukan browsing di dunia maya. Salah satunya adalah dengan mengecek situs dan toko yang berhubungan dengan publikasi buku foto. Berangkat dari sana, saya mulai melihat judul atau siapa pembuatnya, jika ada nama yang saya ketahui, pasti saya klik dan telusuri lebih jauh. Tak jarang peranan judul menjadi penting, begitu pula dengan sinopsis atau narasi pendek yang menjadi pengantar sekaligus sedikit gambaran tentang tema yang diangkat. Walau misalkan saya tidak tahu siapa pembuatnya, namun judulnya sangat menarik, ini bisa jadi pertimbangan untuk selanjutnya membelinya.

Menikmati buku foto bagi saya membutuhkan waktu yang khusus, sama seperti membaca buku teks, saya harus tenggelam ke dalamnya.

Impresi pertama bagi saya pasti dari bagian luar buku tersebut. Saya sendiri punya keyakinan bahwa pemilihan desain dan material sampul depan pasti punya alasan tertentu yang spesifik, begitu juga tipografi-nya. Biasanya, dari depan kita sudah bisa “sedikit” merasakan suasana yang ingin dibangun oleh pembuatnya. Apakah sampulnya keras? Apakah kasar? Apakah kertasnya glossy? Apakah kertasnya matte? Apakah lembut? Kira-kira menggunakan bahan apa? Apakah dilapis kain? Dan berbagai pertanyaan lainnya yang biasanya saya tanyakan terhadap diri sendiri. Ini berguna untuk menerka apa yang ingin disampaikan pembuatnya dari awal, bahkan sebelum saya membuka halaman pertama.

Kumpulan foto tentu adalah hal yang paling utama di dalam sebuah buku foto. Dari kumpulan foto yang dimaksudkan berbicara satu sama lain tersebut kita bisa membaca buku foto. Rangkaian yang diperhitungkan dengan saksama, tentunya memiliki maksud tertentu. Kita bisa menikmati buku foto layaknya menonton sebuah film. Film, tentu saja memiliki alur yang linier (walau jalan ceritanya tidak harus linier). Buku foto, sama halnya dengan buku teks, memiliki alur yang serupa. Dari awal ke akhir.

Rangkaian foto disunting dengan alur tertentu agar menjadi efektif dalam menyampaikan pesan yang ingin dibangun oleh pembuatnya. Cara bercerita dalam sebuah buku foto akan berbeda-beda. Dia bisa sangat deskriptif, bisa pula sangat puitis. Gaya visual dan cara pengambilan foto akan sangat mempengaruhi narasi yang terbentuk dalam sebuah buku foto (ataupun dalam sebuah karya secara umumnya).

Saya sendiri cenderung punya kebiasaan memperhatikan dua foto (atau lebih) yang ditempatkan dalam satu spread yang sama. Kemungkinan besar penentuan posisi tersebut dimaksudkan agar foto-foto tersebut dibaca secara berbarengan atau saling terhubung. Berbeda dengan foto yang ditampilkan sendiri dalam satu spread yang punya kecenderungan agar foto tersebut tidak “diganggu” oleh foto lainnya sehingga narasi di balik foto tunggal tersebut bisa dibaca secara lempeng dan utuh, meskipun bisa jadi fotonya terhubung dengan halaman selanjutnya begitu kita membuka lembaran berikutnya (di sinilah yang saya maksudkan di awal, bahwa sangat sulit menentukan cara yang paling tepat dalam membaca buku foto).

Menariknya sebuah buku foto, adalah kita bisa melakukan analisa sendiri sesuai apa yang kita peroleh saat membaca buku tersebut. Hal ini tentunya sangat dipengaruhi latar belakang, kecakapan kita dalam membaca tanda yang muncul, pengetahuan kita tentang isu yang dibahas, informasi tentang siapa pembuatnya dan kenapa karya itu dibuat, referensi visual, dan subyektivitas terhadap tema yang diangkat. Layaknya bermain puzzle atau berkelana mencari jalan dalam sebuah labirin, ada kenikmatan tersendiri saat kita berhasil memecahkannya. Apa yang berusaha disampaikan oleh pembuat buku foto bukanlah hal mutlak, kita bisa menikmati buku foto sesuai preferensi kita. Dan apabila terjadi “kesepakatan” dengan apa yang disampaikan dan apa yang kita terima, berarti karya tersebut berhasil disampaikan sesuai keinginan pembuatnya. Perbedaan hasil analisa kita dengan apa yang berusaha disampaikan oleh pembuatnya bisa menjadi bahan bakar kita untuk mempertanyakan kembali, melemparkan kritik, memberikan saran, dan membuat diskursus serta pewacanaan baru tentang karya tersebut.

Membaca narasi berupa teks, biasanya selalu saya lakukan terakhir, sebelum buku itu ditutup (dan dibuka kembali di waktu yang lain). Saya sendiri tidak ingin imajinasi dan cara saya membaca buku tersebut dipengaruhi sejak awal oleh narasi berupa teks. Bukankah kita membeli buku foto tujuan utamanya adalah foto itu sendiri? Tetapi hal ini tidak berlaku apabila buku tersebut memang dimaksudkan dibaca berbarengan dengan teks, karena ada banyak juga buku foto yang di dalamnya memuat teks atau visual lain yang bukan fotografi namun dimaksudkan sebagai bagian dari karya dan sejajar dengan foto-fotonya.

Pada akhirnya, buku foto selalu menjadi cara menikmati sebuah karya fotografi dengan pengalaman yang sangat spesifik, sehingga tak jarang untuk mengalaminya secara penuh membutuhkan pengulangan di waktu yang lain,  karena pemahaman kita akan karya dalam sebuah buku foto akan terus berkembang sesuai perjalanan visual dan non-visual kita dalam keseharian. Bagi saya, kuncinya adalah dengan terus membaca berbagai buku foto selagi diselingi diskusi yang bisa memperlebar pemahaman kita tentang kekaryaan.

www.baskarapuraga



(Visited 122 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *