Site Overlay

Mengulas Buku Foto

MENGULAS BUKU FOTO oleh Grace Anata

Mengulas buku foto adalah menyampaikan pendapat, mengkombinasikannya dengan pembacaan secara analitis, menafsirkan yang tersirat, menggali yang tersurat, mengupas kekurangan dan keunggulan secara objektif, sehingga pembaca bisa turut merasakan, tertarik dan bahkan bisa berdiskusi atas ulasan tersebut.

Untuk mengulas buku foto, tentu saja hal yang pertama kita perlu lakukan adalah “membaca buku foto”. Menurut Baskara Puraga, “Membaca buku foto, tidak semata-mata hanya melihat kumpulan foto yang disajikan. Kita akan bertemu dengan bentuk, kertas, sampul, metode jilid, pemilihan tinta, dan hal lainnya yang menjadi satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan dalam sebuah buku foto. Sehingga menjadikan setiap buku foto menjadi suatu benda yang sangat spesifik. Buku foto dibuat dari kumpulan foto yang telah dipilih secara saksama, agar kumpulan dari beberapa foto tersebut apabila dibaca secara utuh akan memiliki pemaknaan, sesuai apa yang ditujukan oleh pembuatnya, sehingga membaca buku foto tidak bisa hanya membaca satu per satu foto didalamnya, namun harus dibaca sebagai satu kesatuan layaknya membaca sebuah buku teks. Buku foto disusun secara berurutan sesuai kebutuhannya. Dia bisa diurutkan secara kronologis, suasana, gradasi warna, pencahayaan, cerita, dan beragam kemungkinan-kemungkinan lainnya agar tujuan dan pesan dari pembuatnya tersampaikan kepada pembaca.”

Jika kita terbiasa membaca buku foto, mungkin kita akan bisa sampai memperhatikan juga siapa editornya, designernya, hingga dicetak dimana. Jika memungkinkan berdiskusi dengan pembuat buku foto akan lebih baik, sehingga hal-hal yang perlu untuk lebih digali lagi bisa ditanyakan langsung kepada pembuat buku, bagaimanakah latar belakang si pembuatnya, bagaimanakah dengan karya-karya lain sebelum dan sesudahnya, sebagai informasi tambahan bagi pengulas.  

Menulis ulasan sebuah buku foto bisa dimulai dari buku foto ini menceritakan tentang apa, apa yang kita rasakan dari awal hingga akhir, kemudian masuk ke pemilihan cover, binding/ jilid, kertas, pemilihan foto, bagaimanakah editing foto, pewarnaan, sequencing atau penyusunan foto yang apakah satu foto satu halaman, diptik atau mungkin triptik teknik untuk melihat hubungan atau bahkan justru kekontrasan ide antarfoto, alur dinamika cerita dari awal hingga akhir, kesinambungan atau justru sengaja acak, atau berbagai pendapat kita yang merasakan kekurangan atas hal tersebut. Kemudian jika dari keseluruhan foto, apakah ada yang paling mendapat perhatian, mungkin bisa juga disampaikan mengapa, yang bisa saja terhubungkan dengan pengalaman pribadi pengulas.  

Bagaimanapun, semua hal ini bukan sesuatu yang secara teknis harus selalu dibahas sehingga mengabaikan cerita, karena tetap cerita paling utama. Sejauh mana keberhasilan pembuat buku foto menyampaikan ide, gagasan, kedalaman cerita, sehingga tersampaikan kepada pembacanya.

Buku foto adalah buku yang unik dan berbeda, maka mengulasnya pun perlu berbeda sehingga ulasan yang disampaikan bisa meliputi keutuhan bagian dari buku foto. Mengulas sebuah buku foto adalah tindakan evaluasi kritis, memaknai, dan membedah substansi. Walaupun begitu, tidak ada patokan baku dalam mengulas sebuah buku foto, setiap orang bebas berekspresi dan tentu saja dengan gaya penulisannya masing-masing.

Selamat menikmati, menyelami buku foto, dan membaginya kepada semua.

===========================================================================
Penulis adalah fotografer dari Bandung, pernah menjadi pengulas buku NonFiksi tingkat pertama se-JaBar pada tahun 2010, pengelola Perpustakaan Fotografi Keliling dan aktivis buku foto Indonesia bersama RAWS Sndct.
www.graceanata.com

(Visited 78 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *