Site Overlay

Bisnis Buku Foto (di) Indonesia (Thinking out loud)

Bulan lalu saya senang dapat menghabiskan waktu di Yogyakarta. Sepulangnya dari sana saya sampai saat ini masih cukup terbebani ide-ide yang muncul. Saya pikir akan lebih baik saya tuliskan saja biar tidak membebani pikiran saya (sendiri), tapi semoga dapat ikut membebani pikiran seluruh pemangku kepentingan buku foto Indonesia. Ha! Tadinya saya juga tidak terpikir untuk mempublikasikan tulisan ini, tapi ada satu hal yang terjadi beberapa hari ini yang saya pikir bisa membuat tulisan ini sedikit relevan, yaitu post facebook-nya Wahyu Dhian mengenai “Pahlawan bagi pembuat buku foto adalah pembeli bukunya.”.

Mungkin saya akan cerita sedikit mengenai asal mula saya bisa tiba di Yogyakarta. Sebulan sebelum jadwal acara Kurniadi Widodo mengundang saya untuk jadi pembicara di acara Kumpul Buku Foto Yogyakarta 2018, saya kebagian tema mengenai sisi bisnis buku foto. Singkatnya kurang lebih ini yang sebagian awal materi presentasi saya saat itu (saya salin dari file powerpoint yang saya siapkan). Presentasi lisan saya sepertinya lebih kacau, tapi moderatornya, Mbak Nia, saat itu cukup handal untuk bikin acara lebih menyenangkan.

Pasar Buku Foto

Kemarin mas Wid mengirimkan semacam brief mengenai apa yang kira-kira harus saya coba bahas. Singkatnya mungkin orang ingin tahu ya, ada ga sih pasar buku foto? Kalau ada seperti apa? Kalau tidak ada, kenapa?Saya juga lihat ada kalanya penerbit buku foto akan bertanya-tanya, opsi apa yang bisa dilakukan dengan stok buku mereka/ buku yang akan mereka terbitkan?Mungkin baiknya kita lihat video berikut ini (semoga kalian suka matematika, karena video ini juga terkait erat dengan pricing buku foto (yang tidak akan saya bahas pada kesempatan ini))

Bisa dilihat dari video diatas sebenarnya bukan hanya orang di Indonesia yang bertanya-tanya mengenai seperti apa pasar buku foto? Bahkan Januari kemarin Unseen Amsterdam menerbitkan booklet yang bisa didownload, judulnya Market? What Market?  <= Ini sangat menarik untuk dibaca apabila kalian tertarik dengan sisi bisnis buku foto.

Di Indonesia
Pengalaman kami:

1. Buku Foto awalnya lebih banyak dipromosikan melalui sosial media.

 Saat kami mulai sekitar 3-4 tahun lalu, kami melihat kehadiran buku foto itu hanya disebarluaskan melalui sosial media. Seperti kita tahu sosial media itu biasanya hanya tersebar kepada teman & kenalan pemilik akun itu sendiri. Jadi kalau penerbitnya kurang bergaul, you’re fucked!Tapi ada sisi lainnya, saat itu buku foto Indonesia yang diterbitkan jumlahnya belum terlalu banyak, jadi banyak orang membeli buku foto karena:Dia ga enak sama temennya / Dia pengen support usaha temannya / dia pengen punya buku foto tapi pilihannya sedikit (sedangkan buku luar negeri mahal)
It is a noble cause yang tadinya saya pikir bakal menguntungkan bagi penerbit buku, sampai tempo hari saat workshop Martin Parr di Jakarta ada salah satu peserta yang mengeluh karena dia merasa harus beli buku teman-temannya padahal dia ga suka J

2. Saat ini situasi sudah agak berbeda karena beberapa toko buku indie sudah menjual buku foto dan jumlah buku foto yang diterbitkan meningkat (walaupun belakangan relatif stagnan).

Hal ini membuat:a.Calon pembeli mempunyai lebih banyak pilihan buku foto yang tersedia
b.Pembeli menjadi lebh selektif 
PS: Ini tentu saja hanya melihat dari sisi penikmat buku foto pada umumnya. Disisi lain ada pembeli buku lain seperti perpustakaan institusi yang juga membeli buku foto (walaupun jumlahnya belum ideal).
Kemarin setelah presentasi, saya melemparkan beberapa kata kunci untuk memicu diskusi. Beberapa kata kunci yang masih tersangkut dipikiran saya adalah sebagai berikut:

1. Photo Book Fair/ Festival
Masalahnya adalah – Kita tidak punya event seperti ini yang telah mapan di Indonesia.- Kita jarang menghadiri event mapan level mancanegara.Kemarin misalnya di lowlight bazaar, seperti biasa kami satu-satunya meja yang khusus menjual buku foto. Organizernya bahkan tidak punya kategori khusus bagi dagangan kami sehingga kami digabungkan dalam kategori “Merchandise”. Hal-hal seperti ini membuat kami terpikir untuk meng-organise event sendiri karena, berdasarkan pengalaman kami, book fair adalah salah satu jalan terbaik untuk memperkenalkan buku kita. Di Jepang misalnya banyak sekali stakeholders yang datang menghadiri event seperti ini, kolektor, toko buku, hingga galerist. Saya pikir event seperti ini akan membuka banyak kesempatan.Mengenai keikutsertaan buku foto Indonesia di event book fair mancanegara, kalau kita baca booklet Unseen diatas terdapat kolektif “Russian Independent Selfpublished”. Mungkin kita bisa tiru kolektif seperti ini untuk mempromosikan dan menjual buku-buku foto Indonesia pada book fair mancanegara. 

2. Penerbit luar negeri.
Saya menanyakan, mengapa tidak banyak penerbit Indonesia yang diterbitkan oleh penerbit dari luar negeri? Ini sebenarnya pertanyaannya agak tricky dan mungkin jawabannya akan bermacam-macam. Tapi rasa ingin tahu saya wajar sih, karena belakangan kami melihat karya dari Thailand, Singapura, Filipina, dan India yang diterbitkan oleh penerbit-penerbit mapan.Saya pikir kita  harus mencobanya. Belakangan kami melihat Muhammad Fadli bukunya “Rebel Riders” akan diterbitkan oleh Dienacht. yay mas!   

3. Photo Book / Dummy Award

Kita di Indonesia juga tidak memiliki event seperti ini; dan Kita juga jarang turut serta di event-event internasional seperti ini. Padahal ini merupakan cara baik agar fotografer/ artis dapat menguji coba ide buku mereka. Banyak buku foto Indonesia yang terbit belakangan ini saya pribadi pikir tidak cukup bagus untuk diterbitkan, tetapi kenyataannya telah diterbitkan. Kami pikir banyak orang kira dengan jadinya dummy yang mereka pikir sudah bagus maka langkah selanjutnya pasti dengan menerbitkannya. Dummy award bisa jadi alternatif lain bagi mereka yang telah memiliki dummy buku, daripada langsung menerbitkannya. Harapannya dummy award lokal akan meningkatkan standar dan memunculkan variasi buku foto Indonesia. Sedangkan kalau kita ikut dummy award internasional akan membuka peluang dummy buku foto Indonesia untuk dilirik oleh penerbit buku foto asing.

Book award internasional jadi ajang bagus untuk memperluas pangsa pasar buku foto Indonesia. Kenyataannya buku yang disubmit pasti dilihat oleh juri awal dan ternyata didisplay, lumayan lah. Kalau ternyata masuk shortlist itu sudah merupakan promosi yang baik.

Ok, cukup racauan dari saya. Semoga tulisannya dapat memicu diskusi yang lebih luas.

UPDATE 18-11-2018
Sari Asih:

“Tambahan: Kritikus/ reviewers buku (bahkan foto) langka keberadaannya, salah satu alasan sistem “arisan beli buku” masih jadi tulang punggung bisnis buku indie.”
Saya setuju memang tidak ada yang mau berperan sebagai kritikus/ reviewers buku foto. Perlu dicatat bahwa bahkan di luar negeri pun jumlahnya tidaklah banyak dan menjadi kritikus/ reviewers buku foto bukanlah sesuatu yang menghasilkan. Joerg Colberg dari Cphmag.co.m setiap tahun melakukan fundraising. Tapi bagi saya Cphmag itu esensial, banyak buku yang baru saya ketahui setelah membaca review disana dan setelah membaca reviewnya kebanyakan saya setuju dengan tulisannya.

Diposting 17th November 2018 oleh Aditya Pratama di https://bogelgelbo.blogspot.com/2018/11/bisnis-buku-foto-di-indonesia-thinking.html

(Visited 85 times, 1 visits today)

2 thoughts on “Bisnis Buku Foto (di) Indonesia (Thinking out loud)

  1. bisnis buku foto memang kurang terutama di era digital, bahkan termasuk kiat kiat memotret. termasuk alm leonardi yg bilang ke saya bahwa dia buat 10 buku dan hanya satu yg dicetak ulang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *