Site Overlay

APA ITU BUKU FOTO?

Apa Itu Buku Foto?

Oleh : Baskara Puraga

Jika mendengar istilah buku foto, maka yang terbayang pertama kali biasanya adalah sekumpulan foto yang dibuat sebuah buku, atau mungkin yang terbayang adalah sebuah album foto keluarga atau pernikahan. Namun apakah sesederhana itu?

Jika merujuk pada penjelasan Gerry Badger, seorang sejarawan dan kritikus fotografi yang membuat tiga volume buku bersama Martin Parr, The Photobook: A History, maka bisa kita pahami sebagai berikut:

A photobook is a book — with or without text — where the work’s primary message is carried by photographs. It is a book authored by a photographer or by someone editing or sequencing the work of a photographer, or even a number of photographers. It has a specific character, distinct from the photographic print (…)

Buku foto dibuat oleh fotografer, bisa sendiri atau lebih, di sunting isinya oleh seorang penyunting atau fotografernya sendiri, dan berisikan kumpulan foto yang telah disusun sedemikian rupa agar menghadirkan dan menampilkan pesan yang ingin disampaikan oleh pembuatnya.

Elizabeth Shannon dalam esainya yang berjudul The Rise of Photobook in the Twenty-First Century, menyatakan bahwa

A photobook is an autonomous art form, comparable with a piece of sculpture, a play or a film. The photographs lose their own photographic character as things ‘in themselves’ and become parts, translated into printing ink, of a dramatic event called a book.

Jadi bisa dikatakan bahwa buku foto, adalah sebuah bentuk yang mandiri dari sebuah karya seni yang menggunakan fotografi, dia berbeda dari cetakan foto secara satu per satu, dan bisa disandingkan secara bentuk dan fungsi layaknya sebuah patung, teater, atau film.

Buku foto dibuat dari kumpulan foto yang telah dipilih secara saksama, agar kumpulan dari beberapa foto tersebut apabila dibaca secara utuh akan memiliki pemaknaan, sesuai apa yang ditujukan oleh pembuatnya, sehingga membaca buku foto tidak bisa hanya membaca satu per satu foto didalamnya, namun harus dibaca sebagai satu kesatuan layaknya membaca sebuah buku teks. Buku foto memiliki kemungkinan “rusak” jalan ceritanya, apabila kita hilangkan walau hanya satu foto. Foto-foto didalam buku foto berfungsi sebagai subyek yang berkesinambungan satu sama lainnya, membentuk kalimat, paragraf, sampai akhirnya menjadi cerita yang utuh walau tanpa teks. Layaknya menonton sebuah film, biasanya buku foto disusun secara berurutan sesuai kebutuhannya. Dia bisa diurutkan secara kronologis, suasana, gradasi warna, pencahayaan, cerita, dan beragam kemungkinan-kemungkinan lainnya agar tujuan dan pesan dari pembuatnya tersampaikan kepada pembaca.

Membaca buku foto, tidak semata-mata hanya melihat kumpulan foto yang disajikan. Kita akan bertemu dengan bentuk, kertas, sampul, metode jilid, pemilihan tinta, dan hal lainnya yang menjadi satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan dalam sebuah buku foto. Sehingga menjadikan setiap buku foto menjadi suatu benda yang sangat spesifik.

Buku foto bisa bertahan sangat lama, menjadi sebuah warisan dari sebuah karya. Berbeda dengan pameran yang memiliki rentang waktu, buku foto bisa menjadi sebuah penanda abadi dari seorang fotografer. Ditengah-tengah perkembangan digital yang sangat pesat, dimana kita dihadirkan dengan miliaran gambar dan foto setiap harinya, buku foto bisa menjadi alternatif untuk menikmati karya fotografi dengan lebih tenang. Kita akan tenggelam dalam karya yang utuh, terlepas dari dunia luar, dan menikmati setiap halaman demi halaman sesuai apa yang ingin disampaikan oleh pembuatnya.

www.baskarapuraga.com

(Visited 182 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *